fifa

FIFA Gagal ke Indonesia, PSSI Kirim Dokumen Calon Venue WC U-20 ke FIFA

Waktumain88.com – FIFA Gagal ke Indonesia, PSSI Kirim Dokumen Calon Venue WC U-20 ke FIFA – Federasi Sepakbola Dunia, FIFA gagal datang ke Indonesia untuk meninjau calon venue Piala Dunia U-20 2021 pada 11 Maret 2020 karena mewabahnya virus corona. PSSI pun punya cara dengan mengirim sejumlah dokumen terkait 11 calon venue.

Virus corona membuat dunia sepak bola di Dunia lumpuh. Tidak hanya membatalkan kunjungan ke Indonesia, FIFA juga menunda pertandingan internasional pada bulan Maret ke bulan September dan Oktober.

“Bisa saya pastikan FIFA batal datang ke Indonesia untuk melakukan finalisasi venue. Mereka gagal datang kerena melihat situasi yang seperti ini,” kata Mochamad Iriawan sebagai Ketua Umum PSSI, Jumat (20/3/2020).

“Tapi meski mereka batal datang, kami akan tetap mengirimkan dokumen 11 stadion yang sudah kita cek ke FIFA agar bisa dipilih enam stadion,” tuturnya menambahkan.

Sebelumya PSSI memang sudah mengajukan 11 stadion untuk menjadi venue Piala Dunia U-20 2021. 11 stadion itu ialah Gelora Bung Karno (Jakarta), Patriot (Bekasi), Pakansari (Bogor), Wibawa Mukti (Cikarang), Jalak Harupat (Bandung), Gelora Jakabaring (Palembang), Mandala Krida (Yogyakarta), Manahan (Solo), I Wayan Dipta (Bali), Gelora Bung Tomo (Surabaya), dan Stadion Utama Riau (Pekanbaru).

Sementara , Pemerhati sepakbola Tommy Welly ikut bersuara soal masalah penunggakkan gaji klub-klub Liga 2 2020. Dia mengaku heran dengan pembiaran yang terjadi berulang-ulang.

Ada lima klub yang menunggak gaji pemainnya dari musim 2019. Mereka adalah PSPS Pekanbaru, Perserang Serang, Mitra Kukar, Kalteng Putra, dan PSMS Medan.

Khusus untuk PSPS, mereka sudah divonis oleh NDRC (National Dispute Resolution Chamber), tak bisa melakukan registrasi pemain selama tiga periode. Pada kenyataannya, PSPS tetap bisa ikut berkompetisi di Liga 2 2020.

Kabar terkini, baru Perserang yang sudah melunasi utang-utangnya. Sehingga masalah utang kini menyisakan empat klub.

Dengan segala masalah itu, Liga 2 tetap kick-off dengan laga pembuka yang mempertemukan tuan rumah Persiba Balikapan melawan Kalteng Putra. Pertandingan berakhir 3-2 untuk kemenangan tuan rumah di Stadion Batakan, Balikpapan, Sabtu (14/3/2020).

Bahkan Liga 2 dimulai tanpa rekomendasi dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Ironisnya, Menpora Zainudin Amali turut hadir pada laga pembuka itu, Padahal BOPI adalah induk dari Kemenpora.

Nah, Tommy Welly kecewa dengan semua yang terjadi di Liga 2 akhir-akhir ini.

“Ini isu lama, artinya isu belum bisa diselesaikan secara tuntas. Ini menyangkut penegakkan hukum juga, hukum sepakbola,” kata Tommy dalam sambungan telepon kepada detikSport, Kamis (19/3/2020).

“Ada klub, operator, ada PSSI, ada area yudisial yang ditegakkan di sana. Mungkin yudisialnya lewat NDRC. Itu kan sudah membuat sebuah keputusan yang harus dihormati,” sambungnya.

“Tapi kenyataannya kan seperti dianggap angin lalu. Jadi buat saya, ini memprihatikan. Dari tahun ke tahun, musim ke musim, isunya masih sama terkait klub profesional dalam hal ini menunggak gaji yang terjadi di Liga 2.”

Menurut Bung Towel, sapaan akrabnya, keputusan NDRC punya kekuatan hukum. Terlebih adalah badan sengketa buatan PSSI dan melibatkan FIFA, FIFPro, dan APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia).

Dengan mengizinkan klub-klub bermasalah bisa ikut kompetisi, artinya PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak mengacuhkan FIFA. Ada potensi sanksi yang bisa didapatkan PSSI terkait masalah ini.

“Keputusan itu bisa dibilang sudah menjadi sanksi FIFA (PSPS tak bisa registrasi pemain). Karena NDRC itu rekomendasi dari FIFA untuk ada di PSSI, untuk sepakbola kita,” tuturnya.

“Mereka mengambil keputusan ketika, katakan lah, itu sudah pasti keputusan yang sudah ditembuskan ke FIFA. Nah di sini lah ada semacam organisasi ini tak tertib. Bahwa PSSI tak tertib terkait itu.”

 

Scroll to top